Tuesday, 13 May 2014

Kertas Itu (tanda petik)

"tidak pernah ada yang salah tentang perasaan, tapi ketika perasaan itu menjadi segala-galanya maka hancurlah sebuah hubungan."

pernahkah kamu menuliskan sebuah proposal, surat permohonan, atau kartu pos pada Tuhan? aku pernah ketika duduk di kelas 1 SMA. Kertas itu ku simpan rapat-rapat agar jangan dibuka orang lain, karena ini rahasiaku dengan Tuhan. Sampai suatu kali, aku menemukan kertas itu terselip dalam buku harian masa SMA-ku. Aku diam.
Ada banyak hal yang sudah Tuhan nyatakan dalam proses hidupku, sampai aku kuliah. Rasanya membaca kembali cerita masa SMA benar-benar menyegarkan jiwa anak kuliah semester 6. Aku menulis tentang perasaan suka-suka-an tapi tidak benar-benar suka, menempel kertas contekan isinya "vis, jawabanmu endi!", mengawetkan sebungkus permen dari seseorang dengan sebaris kata "ini aku kasi permen biar senyum terus", berkaca-kaca saat membaca tulisan betapa tidak percaya diri gadis ini masa SMA.

dan terbacalah kertas itu.
Isinya foto 4x6 dengan tulisan PERMOHONAN
Apa itu? Aku kan sudah bilang ini rhs.
pada intinya, aku bertemu dengan "kertas itu" secara manusia dan manusiawi
aku tidak pernah sadar, sampai akhirnya disadarkan
aku tidak pernah dekat, sampai akhirnya didekatkan

aku pernah berusaha mencari, menyortir dan nihil
"kertas itu" datang seperti ditiup angin
"kertas itu" bahkan yang berusaha aku hindari kehadirannya, karena terlalu berbeda
bertolak belakang seperti kutub utara-selatan
tapi mengapa, "kertas itu" adalah kertas ku di masa lalu?

satu hal berharga yang sedang aku nikmati saat ini
adalah bahwa Tuhan menjawab PROPOSAL-ku dengan cara ajaib.
Tuhan seperti berbicara
        "tenang vis.. ada kok orang seperti dalam kertas itu"
         "kamu tidak perlu kuatir, Aku mendengarmu"
         "kamu hanya perlu sabar dan menantikan"


Wednesday, 19 March 2014

Sepucuk Email dari Jauh

Dear VISI SAUJANINGATI KRISTYANTO ,

As you celebrate your birthday this month, may God’s grace and peace be unto you always. It is our prayer that you will continue to grow in widsom and in the knowledge of our Lord and Saviour Jesus Christ.

We have selected a reading from Our Daily Bread which we pray will encourage you to draw near to God and saturate yourself with His Word everyday even as He adds days and years to your life.

Christopher Tan
Senior Vice President
Asia Pacific Group

Seeing God’s Hand
Read: Ezra 7:1-10,27-28

On Jack Borden’s 101st birthday, he awoke at 5 a.m., ate a hearty breakfast, and was at his law office by 6:30 ready to begin his day. When asked the secret of his long life, the practicing attorney smiled and quipped, “Not dying.”

But there’s more to it than that. Mr. Borden, who was baptized at age 11 in the Clear Fork of the Trinity River, told Fort Worth (Texas) Star-Telegram reporter David Casstevens, “I’m a firm believer that God has His hand in everything that happens. He is letting me live for some reason. I try to do the things that I believe He wants me to.”

Ezra the priest experienced the “good hand of his God upon him” when he led a delegation to Jerusalem to provide spiritual leadership for the former captives who were rebuilding the temple and the city (Ezra 7:9-10). Ezra found strength and courage in knowing that the Lord was with them each step of the way. “So I was encouraged, as the hand of the Lord my God was upon me; and I gathered leading men of Israel to go up with me” (v.28).

When we see the Lord's hand in our lives, it brings forth a deep "Thank you" and a growing desire to do what He wants us to do. — by David C. McCasland
 

If we would view through eyes of faith
The course of each new day,
We’d quickly see God’s gracious hand
In all that comes our way. —D. De Haan

If you know that God’s hand is in everything, you can leave everything in God’s hands

Sunday, 26 January 2014

Re-Soluti-On-2014


seringnya menjadikan doa sebagai kebiasaan di awal makan, tidur, berangkat ke kampus membuat aku tidak benar-benar SADAR bahwa doa itu berarti komunikasi dua arah. tahun ini mau belajar berdoa dengan rendah hati dan menyerahkan kuatirku di tanganNya.


menjadi orang yang lebih berpengharapan. 
kadang sulit percaya bisakah Tuhan mengubah kebiasaan buruk-ku?
lebih bijak dalam berbicara karena aku tahu mulutku sering menjadi batu sandungan buat orang lain.



salah satu harapku, mungkin ini.
bertemu dengan seseorang yang Tuhan sediakan
yang menopang bukan menjatuhkan
yang mendekatkan bukan malah menjauhkan diri pada relasi bersama TUHAN.

catatan akhir semester: lima

rasanya baru kemarin poni disibak, tidak berbedak, tangan njarem semua gara-gara nulis essay super panjang tentang "Alasanku berada di FEB UB"
rasanya baru kemarin mencicipi segala mata kuliah berawalan ekonomi-apalah itu sampai pada ekonomi-dan-penerapannya
rasanya baru kemarin berteman dengan anak lintas jurusan kemudian ciut jadi teman se-konsetrasi bahkan  pada akhirnya cuma kenal teman satu kelas
rasanya baru sekarang aku pahami begitu cepatnya waktu bergulir dan hampir tiba di ujung jalan.

semua orang tentu berharap kuliahnya lancar dan patas.
aku juga.
berharap setelah lulus bisa kuliah s2 dengan beasiswa atau kerja sesuai passion setidaknya sesuai konsentrasi kuliah.

akhir semester lima ini, dimana IP jadi tidak benar-benar penting untuk dibanding-bandingkan dengan teman kuliahan.
akhir semester lima ini, berhenti dan mulai fokus "What does The Lord desires of me?"
mulai berpikir dan bertindak dewasa
dan menyadari bahwa kita yang bertanggungjawab atas segala pilihan yang kita buat

hug means huge


suatu hari nanti, bila kita menangis di tengah malam tanpa tahu mengapa kita melakukannya

suatu hari dimana kita merasa kosong dan sendiri padahal dikelilingi tawa dan keramaian

saat itulah sadari, teman
Kau membutuhkan orang lain.
sebuah tatapan mungkin ?

secangkir teh hangat mungkin?

sebuah tepukan di pundak? atau belaian lembut di rambut-mu, mungkin ?

atau sebuah pelukan ?

Tuesday, 27 August 2013

3 Kebetulan yang Mengubahkan Seorang Aku.

kebetulan, aku menggantikan seorang kakak namanya Inneke O Situmorang (kak Io) untuk mengikuti Kamp Nasional Mahasiswa yang diadakan tiap 3 tahun sekali. Artinya kalau aku semester 4 sekarang berarti 3 tahun lagi aku (berharap) tidak bisa mengikuti kamp ini karena pengen cepet lulus dan bergelar. berangkat dengan tidak enak hati karena latar belakang "menggantikan" maka aku kurang ada semangat, motivasi, dan persiapan hati mengikuti kamp ini.


kapsel yang kupilih adalah kapsel Peneliti Ilmu Sosial dengan ekspektasi aku bisa sharing dengan orang ber-passion sama denganku: ekonomi karena sejujurnya aku sangat tertarik jadi ahli ekonomi seperti seorang Sri Mulyani. Tapi sesaat setelah berkenalan dengan teman satu kapsel dan bertanya "Kak dari jurusan apa?" semuanya Eksak. WOW. Sejujurnya, aku minder. Kemana semua anak sosial ? tidak adakah yang ingin jadi seorang peneliti di bidang ini? Bagaimana aku bisa sharing kalau ternyata passion kita berbeda.Kebetulan, seorang kakak Staf namanya Cibi Berman (biar eksisable) nyambangi aku. Mungkin dia kasihan aku sendirian tak berdaya dalam ruang dengan lautan anak eksak makanya dia tanya
"Mau pindah kapsel Dek?"
"Emang boleh Bang?"
"Ayo..."
Rasanya seperti oase segar, kuikuti langkahnya.
"kamu mau ambil apa? keuangan ya? kan sesuai sama bidangmu."
"Aku g suka ngitung, Bang. apa birokrat ya?"
"dimana ruangnya?"
"gatau Bang."
KRIK KRIK
 Perjalanan kami terhenti setelah menatap pintu bertulis Kapsel Dosen.
"Disini aja Bang aku."
"Yakin Dek?"
"Gak yakin Bang" dengan senyum hambar aku masuk ruang ini.
 Singkatnya, pertemuan pertama ini diawali dengan pertanyaan Kenapa kamu memutuskan ada di Kapsel Dosen? Adakah pergumulan, kendala dan apa yang sudah kamu lakukan sejauh ini?. BLANK
aku cuma berdoa dalam hati: Ya Tuhan semoga jawabanku tidak memalukan, aku takut Tuhan mau ngomong apa aku masih semester 4. Tuhan berbisik di telingaku. Janganlah seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. 
Gak tahu kenapa, pikiranku terbayang teman-teman kampus yang sering tanya dan minta diajari beberapa mata kuliah. Tuhan, apa aku punya kemampuan mengajar?
Mengapa ada di kapsel dosen: (karena kebetulan di kapsel peneliti tidak ada anak sosial) karena saya suka meneliti dan mengajar. 
Sampai dengan akhir pertemuan, aku banyak terberkati dengan sharing kakak-kakak yang memang bergumul dengan panggilan seorang Dosen. Dosen adalah posisi strategis untuk mendidik, mengajar, dan mencetak orang-orang yang tidak hanya intelek dalam ilmu namun berkualitas dan berintegritas untuk kesejahteraan bangsanya.

 Pertemuan kapsel selanjutnya ada begitu banyak sharing pengalaman hidup yang dibagikan.Sangat bersyukur dengan umurku, aku bisa berpandangan luas dan dibukakan dunia per-dosen-an dan pergumulannya. Aku sangat takjub Allah membawa aku sejauh ini.

I'm very blessed.
Kita memang tidak pernah menyadari bagaimana Allah menyatakan ke-digdayaan-Nya dalam hidup pribadi kita.

Dengan penuh semangat, aku pulang. Dengan menata motivasi untuk mencari kebenaran Allah dan memuliakanNya dimanapun aku berada, aku pulang. Dengan limpahan berkat, aku pulang untuk mengerjakan panggilanku.

Kebetulan, Kak Debora mengajak kami untuk menemui saudaranya di Jakarta yang akan membawa kami ke Stasiun Gambir jam setengah 10 malam.Dengan kemurahan Tante ini (yang aku tidak bertanya namanya) kami diajak putar-putar Kota Jekardah! Blusukan di Pasar Senen, Lihat-lihat (camkan itu cuma lihat) barang etnik di Sarinah, melintasi Tanah Abang yang jadi hot news, makan Bakmi Gang Kelinci yang sangat enak dan kembali ke Gambir. Tuhan, katanya kalau belum berfoto dengan Monas kita belum disebut touchdown Jekardah.. aku pengen Tuhan ke Monas.
Tapi luarbiasanya, saat kami tiba di gambir dan menunggu kereta api. Dengan mata malamku aku bisa melihat dengan jelas Sang Monas. Bahkan dari hal kecil, aku mencoba bercakap-cakap dengan Tuhan dan memohon seperti anak kecil.. Tuhan menjawab doaku. Memang kami tidak melihat Monas dari dekat tapi cukup indah menikmatinya dari dasar hingga puncak dari Stasiun Gambir.



Aku belajar bahwa setiap kebetulan-kebetulan yang aku alami, memang bukan karna perkenananku tapi karena Allah sudah merencanakan dan sedang mengajar aku untuk menyadari setiap Anugrah-Nya, tentu bukan untuk kusimpan dalam hati tapi berbagi melalui hal-hal yang bisa kulakukan.

Dipanggil Untuk Kemuliaan-Nya? Aku Siap, Tuhan

Sunday, 21 July 2013

Ambisi Part 2


Ambisi sangat perlu untuk mencapai sesuatu. Tanpa ambisi untuk meraih suatu tujuan,
maka takkan ada yang bisa dicapai. Tanpa ambisi untuk berbuat lebih baik dari orang lain 
dan untuk mencapai lebih banyak daripada yang biasa dilakukan seseorang maka tak akan 
ada kepuasan menerima pahala lebih banyak. 

Untuk memenangkan sesuatu, seseorang harus punya ambisi.
Ambisi adalah pelayan yang baik tetapi majikan yang buruk. Sejauh kita bisa 
mengendalikan ambisi, kebaikan akan kita peroleh. 

Tetapi bila kita diperbudak oleh ambisi, maka kata-kata Shakespeare 
akan sangat tepat sekali: "Cromwell, kupinta kau buang saja ambisimu.
Jangankan engkau, malaikat-malaikat pun bisa runtuh oleh ambisi." 

Tahun-tahun Bahagia -Laura Ingalls Wilder