Sunday, 21 July 2013

Ambisi Part 1

"coba sini tak lihat kepribadianmu dari tanda tanganmu..", kata seorang teman

"oke". Mulai kugariskan sebuah tanda tangan yang sudah tergambar dalam kartu pelajar smp, sma, mahasiswa, KTP, kartu puskot, dan beberapa kartu (tidak) penting lainnya.

"hmm.. pertama, kamu orang yang punya ambisi besar tuh bisa dilihat dari goresan awal yang mengarah ke atas. Tapi kamu kurang konsisten terlihat dari beberapa goresan acak-adut setelah huruf K berakhir..", sambil menunjukkan hasil tanda tanganku.

kayaknya anak psikologi sama peramal beda-beda tipis ya

"Kok bener banget sih, aku memang orangnya berjiwa kompetitif, kalau ada yang baik aku harus lebih baik. Terus soal konsistensi, Oh really Me...", mataku membesar menatapnya.

"kamu jangan hanya percaya omongan orang."

JLEB.

Suatu hari, aku akan memposting sebuah esay pendek yang ditulis Laura Inggals Wilder, buku pertama yang kubaca sejak aku bisa membaca karangan-karangan super panjang (sebutlah novel) tentang Ambisi. Tapi kali ini, aku mau menulis tentang ambisi menurutku.

ambisi seperti benih yang Tuhan tanam di hati setiap kita. Bohong kalau orang hidup tidak punya ambisi !. Bagiku, seseorang mengatakan "saya tidak berambisi", menandakan ketidakambisian yang terlontar adalah juga sebuah ambisi untuk dikatakan. Si benih ambisi ini akan bertumbuh bila dipupuk, disiram, dan dihargai dengan berupa-rupa cara.

dengan visualisasi, dengan percakapan, dari internet, bahkan dalam tidurpun jabang ambisi bisa menua.

ambisi berbeda dengan berharap tapi agak mirip dengan passion (lagi-lagi kesoktahuanku). Karena pikirku, kalau kita berambisi kita akan amat sangat bergairah untuk hanya sekadar memikirkan, melakukan sampai pada tindakan mewujudkan. Batasan berharap ya hanya sekadar harapan.

Senyata-nyatanya ambisi tidak akan tercapai bila ladangnya sendiri tidak mau berusaha. Ambisi juga baiknya realistis sesuai kapasitas karena sekali lagi ambisi bukan harapan atau mimpi siang bolong. Aku berambisi dengan ketenaran tapi aku tidak berani berdiri di depan umum dan sering gagu saat tiba-tiba ditanyai dalam forum, maka aku mencoret ambisi tenar dalam list ambisi. 

"Apa ambisimu?"

Kalau harapan, aku berharap orangtuaku umur panjang dan aku bisa menikah di bawah umur 25. Impianku punya rumah yang minimalis, sejuk, dengan banyak bunga warna-warni.Punya suami yang blablabla... kembali ke topik.

Ternyata kalau dipikir lama, sulit sekali mendefinisikan ambisi pribadiku dengan konkret. Sejauh ini aku merasa menggebu dalam ekonomi baik pandangan mikro dan makronya, njelimetnya kurva, isu ekonomi terbaru dan panjang lebar.

tapi ambisiku... Yakin, Mentri Ekonomi? Yakin, Pegawai Bappenas? Yakin, PNS?

entahlah, sampai saat ini dibuatpun aku ngawang dengan ambisiku. semoga dengan perjalanan detik ke menit ke jam dan pergantian hari ke hari membuat aku sadar akan apa sebenarnya yang menjadi ambisi pribadi dan SEMOGA saja ini tidak makin menjauhkanku dari Si Pemberi benih ambisi, orang-orang yang kucintai dan kegiatan tulis menulis ini.

Thursday, 18 July 2013

Suatu Hari Jatuh Cinta


Apakah kamu pernah jatuh cinta dalam sebuah perjalanan? Aku jawab pernah.
Bukan kepada satu orang secara personal, tapi kepada beberapa orang. Rasa nyaman, membuncah dan hangat ini timbul dari setiap percakapan pendek yang terucap saat duduk-duduk, beberapa perhatian kecil seperti menuangkan teh hangat dan berbagi nasi hangat, dari setiap candaan berbalas tawa lepas yang menghilangkan kepenatan, dari setiap melodi gitar yang dimainkan untuk didendangkan bersama-sama.

Kisah jatuh cinta ini dimulai ketika aku mengikuti sebuah perjalanan bersama mereka, orang-orang yang kukenal 2 tahunan ini. Namanya Mas Yogi, Kak Fera, Bang Berman, Kak Jean, Kak Ema, Bayu, Kak Uthek, Kak Rita, Dian, Meriko, dan Yakin. Berduabelas kami memulai ekspedisi mengenal lebih dalam diri sendiri dan orang-orang seperjalanan dan merasakan kedekatan lebih lagi bersama Allah.


Pantai privat yang kami eksplorasi ini namanya Kondang Merak. Pantai ini letaknya berdekatan dengan pantai Balekambang yang lebih tersohor. Jalannya yang terjal dengan batuan cadas memang membuatnya kalah pamor,  namun hal baiknya, Kondang merak masih sangat asri dengan pepohonan bahkan di jalan masuk kami sempat menjumpai beberapa kera. 

 Pasirnya putih dipadukan rerimbunan kerang-kerang yang beraneka warna, bentuk dan rupa. Waktu surut adalah waktu yg tepat menikmati indahnya makhluk kecil ini. Betapapun banyaknya, tak satupun yang sama. Ada yang kelihatan di luar berkilauan tapi beberapa bagian di dalamnya keropos. Ada yang begitu kecil bentuknya tapi memancar warna-warna yang memikat. Ada yang butuh waktu lama untuk mengeluarkan pasir-pasir dari lubang dan ada yang hanya sedikit sentuhan  untuk membersihkannya. Adapula yang warnanya kusam dan berbentuk asimetri namun begitu kokoh dan tegar. Seperti inilah rupa manusia (juga). 



Setelah bermain mata dan hati bersama kerang dan karang, saatnya bermain perasaan. Kucoba tutup mata dan hanya mengandalkan telingaku. Gemuruh ombak, pekikan angin, gesekan dedaunan sebuah melodi yang manis. Alam menyeimbangkan kepanasanku dengan menetramkan hatiku. 


Sendiri akan bisa menikmati banyak hal, tapi bersama jauh lebih bermakna. Banyak orang yang kutemui berusaha menjaga jarak dan menetapkan batasan. Kita berteman bisa, tapi jangan campuri urusan keluargaku, cara belajarku, gaya pacaranku atau bagaimana bicaraku. Ketika ada yang salah dariku lebih baik tutup mata dan telingamu.

Ketika seorang teman bisa berkomentar apa saja tentang hal yang ingin atau telah kita lakukan, tak peduli itu baik atau buruk maka menurutku inilah teman. Aku diijinkan mengungkapkan apapun tanpa rasa kuatir, karna aku tahu mereka temanku.



Dan pada akhirnya setiap perjalanan punya tujuan akhir: Rumah.
Perjalanan ini pun begitu, bukan hanya sekadar senang-senang saja tapi kami juga ingin berdekatan dengan Rumah kami sebenarnya, Ibu yang merancang dan menjagai siang malam kami, ayah yang cemburu bila anaknya tidak taat namun juga penuh kasih dan perlindungan. Rumah ini kami sebut Tuhan.

Aku menuliskan sebuah NB yang agak panjang di hari itu pada secarik kertas. "bagaimana aku bisa mengandalkan kekuatanku kalau Allah tidak campur tangan, ambisiku untuk jadi perempuan yang sempurna dalam segala hal, ketakutan kalau gagal di hadapan orang lain, orangtua dan tanggungjawab studi yang menekan dan mendorongku memenuhi standar dunia. Aku bersukacita karena disaat oranglain diberi kelebihan, aku punya damai sejahtera, aku bersuka karena perbuatan-Mu aku boleh bertumbuh, berproses dan dibentuk untuk menjadi diriku apa adanya." adakah yang merindukan dirinya sendiri dan Rumah? Coba diamlah dari hati dan rasakan jatuh cinta.



Monday, 1 July 2013

Awan hari Ini




Awan hari ini
Akankah kamu sama seperti saat kemarin kita berpandangan
Aku,tentu masih sama
Masih di bumi dan berada di tempat yang sama

Kamu, masihkah kau menemani sang agung mentari
Begitu lekatnya kau dan-nya
Kadang aku iri hati
Kau berarak namun tak jauh dari pesona cahaya kuningnya

Mengapa aku menyukaimu?
Bukan karna kau maha-daya-energi
Bukan karna kau menarik
Dan bukan karena penuh pesona

Hanya saja, aku tak ada pilihan lain
Setiap kali memandang langit 
Entah itu pagi, siang, senja
Hanya kau yang bisa kutatap
Karna mentari tak sanggup kuraih
Karna sang senja akan dengan cepat merebahkannya
Karna awan hari ini berarak begitu lambat namun pasti

Tentu di malam hari melihatmu seperti mencari jarum di tumpukan jerami
Pekat, sendu, biru
Tak selalu kita akan saling berpandangan 
Namun esok awan hari ini tetaplah awanku, harapku.

Saturday, 25 May 2013

untuk teman seperjalanan..

menjadi siswa seperti jalanan
ada yang jalanan lurus bebas hambatan
masa 3 tahunmu bersinar dan tanpa kesulitan

ada yang seperti jalanan macet
3 tahunmu terasa begitu melelahkan
banyak airmata teruras
bagaimanapun usahamu, kamu tetap diam ditempat

ada pula yang seperti jalanan di pegunungan
setahun penuh mengerjakan yang maksimal
setahun kemudian merasa sudah memiliki segalanya
tahun selanjutnya begitu kuatir kalau terjatuh dan tak bisa meraih puncak lagi

sama seperti perjalanan, tidaklah membosankan
kalau ada kawan yang menemani
sama seperti perjalanan, tidaklah berat
kalau kamu tahu dengan jelas kemana harus pergi

dan sama seperti perjalanan, akan terasa punya makna
kalau kamu tidak berjalan sendiri melainkan dengan Allah yang sudah merencanakan jalan hidupmu


on the Night of "Gratefully Graduation" our Beloved
Shella, Bella, Andre, Candra, and you

Tuesday, 21 May 2013

Mengenal Brantas, Menyayangi Brantas

"Ayo, siapa yang mau jadi panitia acara PSKM featuring PMKM?
"boleh", kataku
"ada 3 sie, mau sie dana, sie PUT atau sie lomba?"
"hmm.. kalau dana aku g bakat dodolan, lomba aja sepertinya seru.."
"oke. visi sie lomba ya."

berawal dari ajakan ini aku menjebak-kan diri dalam rutinitas rapat divisi, rapat pleno, email-emailan dengan juri dan koordinasi antar 1 tim lomba. Cukup menyenangkan cukup melelahkan, sebenarnya tujuanku apa?
sampai suatu kali saat mempelajari proposal, aku mulai sadar bahwa ini bukan sekadar event-event biasa, tapi ini Lomba Fotografi. ini juga Lomba Fotografi On The Spot (notabene belum jadi tren di Kota Malang), ini juga sebuah Lomba Fotografi On The Spot DAS Brantas.

Istimewanya, saya sedang terlibat dalam sebuah misi lingkungan penyelamatan daerah aliran sungai Brantas. Brantas adalah ibu dari tiap aliran sungai yang pernah kita jumpai di Malang. Brantas menjadi penghidupan vegetasi hijau dan para satwa. Brantas menyuguhkan fasilitas gratis dan tidak terkecuali untuk mandi, mencuci, bermain dan pembuangan sampah.

Pernahkah aku bersyukur atas hadirnya Brantas ?
       Kapan aku pernah berdoa supaya Brantas tetap "sehat-sehat" saja ?

bagaimana aku bisa berpikir, bersyukur dan berbuat sesuatu kalau aku tidak pernah mencoba peduli aliran sungai kecoklatan yang selalu kulihat dimanapun aku berada di Malang.Makanya aku mulai bersemangat mengerjakan tanggungjawabku di sie lomba

sempat sedih karena peserta kurang dari target.

agak UP lagi setelah seseorang berkata "yang penting kegerakan yang mendorong orang-orangnya untuk mau peduli dengan Brantas lewat foto yang mereka hasilkan". YA, benar.

-----

Sumber Ngesong, lewat jam 07.00 am
Tempat ini bagiku serba pertama. pertama kali melihat kebeningan aliran sungai. pertama kali takjub ada teratai tumbuh di aliran sungai. pertama kali mencoba membidik jenis capung yang dapat hidup hanya di air bersih. pertama kali merasakan keramahan setiap orang yang berselisih jalan denganku. Jauh dari kota dan kebisingan, menyatu pada derasnya air mengalir untuk merasakan bahwa Brantas dekat hulu sangat alami, sejuk dan membiarkan kita berelaksasi sejenak.



Junrejo, Batu. Perjalanan diiringi krucukan perut

Tidak ada yang istimewa bagiku melihat aliran sungai ini.. sungai disini moderat, cukupan pemandangannya. Yang menarik, selepas makan siang ada seorang bapak dan anak yang berarung jeram melewati derasnya arus. Ooh, kalau disini sungai ternyata memacu adrenalin kita untuk melawan derasnya arus. Aku tidak lagi cukup suka tapi suka sekali dengan karakter sungai ini. Brantas menawarkan kesempatan untuk kita semua bisa keluar dari zona nyaman, kenyamanan saat berelasi dengan android, kenyamanan berteduh di rumah, kenyamanan untuk tetap aman berjejak di tanah.

Embong Brantas. Jelang siang
sampah. ayam. jemuran pakaian. sampah lagi. Obyek-obyek yang saya nikmati. Hampir setiap hari saya melewati jalan di atas sungai ini dan saya baru menyadari bahwa disinilah Brantas terlihat sakit. Alirannya tetap deras berwarna coklat pekat, berbau dan penuh sampah. Mirisnya ada orang yang membuang sampah di sungai saat bersamaan mencuci tangannya di sungai tersebut. Dengan kesakitannya, seharusnya ia tidak usah mengalir. Dengan kesakitannya, seharusnya ia membawa wabah dan banjir bandang tapi menurut mereka yang hidup di sepanjang aliran ini, Brantas tidak pernah melukai, ia terluka sendirian.



Brantas hidup disekitar kita, sungai dengan kehidupan flora fauna dan manusia. akankah kita terjebak dalam ketidakpedulian?




Langit (selalu) Amat Indah














"ku yakin hujan kan berhenti"





berlagu misteri, yang tersingkap tanpa kau sadari

Yang ku rasakan tak mungkin ku ingkari
...

(klimaks lagu)
dan birunya semakin biru
tak kan berhenti
seluas yang tak kan terperi
dan kusadari
memahami
bersamamu 



Tuesday, 16 April 2013

personifikasi sebuah kopi


kopi ini punya nama, namanya Glo. Tipikal kopi yang sempurna dari serbuk kopi sampai pada penyajian. Mugnya berwarna coklat tua dengan bentuk yang tegas, kokoh namun mampu memberikan kehangatan. Aromanya wangi paduan biji kopi asli dan kayu hutan. Menikmatinya ditemani kesendirian dan hati yang kosong dalam ruang yang sunyi, maka kamu akan mengerti si Glo, yang sepandang mata terlihat kokoh namun dibaliknya dia butuh pengakuan, bahwa dia adalah satu-satunya kopi terbaik.karenanya kunamailah dia si kopi sendu. Glo akan berubah rasa ketika kamu menikmatinya bersama dengan teman mainmu di ruang yang ramai. Rasa Glo tegukan pertama panas menyengat kemudian hangat selanjutnya hambar karena Glo menguap dalam keramaian, rasanya jati diri si tegas ini terdegradasi oleh situasi.
namun kekuatannya tetap pada bagaimana Glo memberikan perhatian pada penikmatnya. Panasnya saat bersentuhan.. kehangatan tegukan yang sampai ulu hati.. Glo, membuat aku nyaman.


kopi kedua, namanya Soe. Sodoran pertama, penyajian yang kaku, sederhana dan polos. Cup pertama, penikmat akan merasa aneh dengan rasanya yang khas. Bukan jenis kopi biasa yang manis atau pahit. Soe cenderung.... sulit diungkapkan. Pertemuan selanjutnya karena penasaran, aku mengambil cup kedua. Sekarang rasanya menggelitik di lidah, bukan manis bukan pahit hanya canggung karena aku kesulitan mendefinisikan rasanya (lagi). Kusebut dia kopi puzzle, penuh misteri. cup ketiga, shocked! tegukannya kali ini mengingatkanku pada minuman soda yang mengejutkan. Ternyata aku tidak dapat mendefinisikan rasa Soe karena Soe tidak mengijinkanku "merasakan-nya" sampai kami bertemu lagi. Mulai tampak kopi Soe yang memelekkan mata, aromanya menyengat, dan terasa di lidah sampai lama sekali. Soe tidak dikenal penikmat Coffee, dalam daftar menu dia berada di halaman terakhir alias bukan rekomendasi penjual. Namun, aku selalu mencari Soe dalam keseharianku karena Soe selalu memberikan rasa berbeda dalam setiap pertemuan kami. Oya, temanku pernah bilang gini "Soe itu cuma enak kalau kamu yang minum, kalau aku kok g merasa istimewa ya minum kopi itu", ya.. itu kekuatan Soe. Dia hanya mengijinkan aku seorang yang menikmatinya, bukan kamu.



Cangkir ketiga, kopi ini namanya Kia, temanku sahabatku dari jaman aku pemula minum kopi sampai aku tahu beraneka jenis kopi. makanya kusebut dia Kopi hidup matiku. Sejak pertama sampai saat ini, tegukan ini selalu sama, tipe kopi yang menyenangkan, santai, bisa dinikmati saat keramaian sekaligus kesendirian. tapi akhir-akhir ini aku merasa Kia berbeda, entah karena indera pengecapku atau memang berlalunya waktu membuat cita rasa kopinya berubah. Terkadang, dalam beberapa tegukan aku merasa desiran aneh semacam candu, kalau aku tidak minum rasanya akan pahit benar hidupku. Bukan lagi karena aku suka rasa atau aromanya, tapi karena kebiasaan harus bertemu.
Pernah suatu kali saat rintik hujan membasahi kami, aku dan kopi Kia saling berpandangan kami saling membutuhkan, aku butuh "kebiasaan" bertemu, kopi Kia membutuhkan penikmat yang selalu ada. tapi memang kami hanya bertahan disana dalam kebiasaan dan keselaluadaan.