Wednesday, 3 August 2016

Untuk seorang Pria yang aku .......

Aku pernah meminta pada Tuhan untuk memberikan 3T untukku. Seorang pria yang mengasihi Tuhan tidak hanya dalam pelayanannya melainkan dalam keputusan remeh seperti membeli sepatu baru, bergumul dengan keuangan yang jebol, mau berjalan kemana hari ini. Dengannya, kami sama-sama terhubung dengan isi hati Tuhan.
Seorang pria Teknik, ini murni subyektif. Kenapa? Anak teknik ditempa dengan kerasnya perkataan, tugas, gak menye-menye, ospek paling soro, sudah biasa hidup sulit. Dibiarkan di hutan, akan mencari makanannya sendiri. Aku berdoa semoga Tuhan mendekatkan aku dengan seorang pria berjiwa teknik yang keras ditempa tapi hangat hatinya.
Seorang jawa Tengah, jangan tertawa aku serius. Dalam stereotypeku, seorang yang lahir atau dibesarkan di jawa tengah punya budaya yang lebih rendah hati, pengalah dan lemah lembut. Dia yang tidak berkata keras untuk mengajar, tapi mengarahkan dan sabar.

Hari berganti, hati menemukan tambatannya.
Kata buku, seorang pria dan seorang wanita yang bersahabat tidak akan pernah murni saling bersahabat. Salah satu atau bahkan keduanya, akan timbul satu hari dari ratusan pengalaman bersama yang tertaut karena seringnya bertemu, karena sama sama dimengerti, sama sama saling membutuhkan karena tidak ada energi untuk mencari-mencari. Demikianlah kita.

Kesederhanaanmu, kesabaranmu menantikan aku, keselalu-adaanmu dalam waktu terpurukku membuat aku merasa punya seorang sahabat. Sampai suatu kali, matamu memandang dengan serius dan sentuhanmu lain dari sekadar sentuhan keakraban, aku mengenalmu sebagai seorang pria daripada seorang sahabat tempatku belajar otentik.

Tidak perlu ada selebrasi tiap bulan untuk kasih kita, tidak perlu ada pengumuman bahwa kita menjalin hati, karena saling tahu hatinya dipergumulkan untuk siapa.

Tiap doa dan dosa yang pernah dilakukan,
Tiap pengalaman beberapa menit dan perjalanan seharian,
Gunung, sumber mata air, alam tempat kita berdua AWG,
Tempat makan murah pinggir jalan yang mengenyangkan,
Kamis sore bersama Asa dan anak-anak kasin,
Obrolan ringanmu dengan ayah ibuku,
Menerjang hujan demi berkata "jangan pergi",
Mulai dari chat panjang sampai tidak ada daya konunikasi selain "selamat pagi sayang",
Setiap hal yang kamu lakukan untuk kita.
Aku berterimakasih kepada Tuhan untuk pergumulan ini. Mengenalmu sebagai sahabat, teramat indah. Dan mengenalmu sebagai seorang kekasih teramat aku syukuri. Kiranya anugerah mengasihi itu tidak pudar oleh badai kesibukan, kiranya doa dan hati kita terus diarahkan pada isi hatiNya, dan kiranya kita sabar bergumul untuk relasi ini.
Selamat menua bersama
Sayangku,
Yakin Gabrielsa.



Monday, 6 July 2015

Psalms 107:30


"Mereka bersukacita, sebab semuanya reda, dan dituntun-Nya mereka
 ke pelabuhan kesukaan mereka."

Richard Rohr dalam buku Emotionally Healthy Spirituality menuliskan lima kebenaran inti yang harus disadari manusia jika mau bertumbuh dalam Tuhan.
Hidup itu sulit,
Anda tidak sepenting itu,
Hidup anda bukan hanya tentang anda,
Bukan anda yang mengontrol,
Anda pasti mati.

Bagaimana saya bisa menjawab iya dan tidak, tergantung dari kepekaan dan apa yang saya alami. Saya mengingat proses skripsi yang lahir dari benih-benih keangkuhan, kesombongan, dan idealis mahasiswa semester akhir yang ingin excellent dalam menempuh study-nya. Selama saya hidup, saya mendapatkan apa yang saya mau dengan instan dan tanpa bersusah payah.

Tapi, saya bersyukur Tuhan menempa pribadi saya melalui variabel-variabel yang tidak terkontrol seperti mood Bapak Dosen Pembimbing, data-data mentah yang banyak dan rumit, kejadian-kejadian yang membuat saya down,  dan banyak hal lainnya.

Seperti perenungan pemazmur,
saya mengarungi setahun untuk berjuang dengan skripsi.
Tuhan memproses saya melalui angin badai yang saya anggap idealisme, perfeksionisme, dan mood-isme Bapak dosen pembimbing,
saya ingat untuk pertama kalinya presentasi dihadapan Beliau dengan menunjukkan kepintaran saya dan untuk pertama kalinya saya dibuat nangis karena "kamu terlalu bertele-tele dan tidak bisa menjelaskan kurva ini dengan baik,"
sebuah kalimat yang menghantam saya.
saya menangis bukan karena kerasnya ucapan Bapak Dosen tapi karena saya malu sudah sangat sombong dengan kemampuan saya.
saya hancur dan pelan-pelan membangun lagi kepercayaan diri.
setiap kali saya akan bertemu beliau, saya hanya berdoa "Tuhan, buatlah saya berhasil hari ini."
dan setiap kali bimbingan, bukan keberhasilan yang saya dapatkan tapi revisi, revisi dan revisi
hingga mendekati Ujian Komprehensif
beberapa bab terus dirubah total
ide-ide yang awalnya sudah sepakat ditulis dirubah kembali kerangka pikirnya
hasil-hasil analisis mulai dibantahkan

dunanges TT

dan saat Ujian Kompre, saya mendapati dosen-dosen Penguji yang luarbiasa rendah hati dengan kemampuannya. Baik Pembimbing dan Penguji saya adalah orang-orang yang tidak hanya mengajar ilmu ekonomi bagi mahasiswa tapi mereka turut bersumbangsih dalam pembangunan ekonomi melalui penelitian yang dibuat.
selama satu jam, ada banyak saran perbaikan untuk skripsi saya.
tapi saya begitu damai sejahtera:
karena saya melewati badai ini dengan mengingat kemurahan Tuhan menenangkan hati dosen dan meremukkan kesombongan saya.

skripsi ini memang bukan tentang saya,
melainkan Tuhan yang bekerja
dan segala hormat kemuliaan saya kembalikan pada Dia, Sumber Pengetahuan dan Hikmat.



Mereka yang ada di samping untuk mengingatkan "Ayo Vis ndang dimarikno..", 
di belakang untuk mendukung dan menguatkan,
dan di depan untuk memeluk.

Monday, 8 June 2015

Jebakan Tuhan (2)

Dalam sebuah "jebakan" aku tiba-tiba didaftarkan ikut suatu seminar. Seminar yang jelas-jelas bukan passionku dan sebenarnya aku tidak tahu apa tujuannya. Membayangkan duduk mendengarkan, banyak diam, berkenalan dengan orang baru, tidur cukup rasanya sedikit kemewahan lah ditengah jenuh dengan ketidakpastian skripsi.

setiba disana, mukaku masam (aku tidak biasa menunjukkan ketidaksukaan di depan orang lain) tapi jelas aku marah dan merasa dijebak. Ada sekitar 40 orang Ibu dan Bapak berusia 35-50++ dan aku satu-satunya pemudi disana. Aku ngomel sendiri, menyalahkan betapa bodohnya aku tidak bertanya seminar apa ini.

---
sesi pertama: Ending Yunus yang Nggantung.
Pak Henjk, pembicara dari Belanda menceritakan dengan sangat menarik tentang panggilan Yunus. Yunus yang lari, Yunus yang ngomel, Yunus yang berdoa, Yunus yang menyerukan pertobatan Niniwe, dan Yunus yang lagi-lagi ngomel dan... endingnya tidak kami ketahui apakah dia makin mengasihi Tuhan atau Niniwe diselamatkan atau Yunus melarikan diri atau Niniwe dihancurkan.
Hmm, ini mah nyindir aku, Pak
aku juga digantung dengan sejuta pertanyaan oleh Tuhan.
---
sesi makan siang: kamu tidak tahu bagaimana Tuhan berbicara lewat orang lain
Ibu tua ini duduk di sebelahku terus, aku curiga dia mengasihani aku yang tidak punya teman. Tiba-tiba Beliau curhat tentang anak lelakinya yang berambisius. "Anak saya yang kedua namanya Yehuda. Dia ingin bekerja di Jepang. Sudah habis perhiasan, motor, harta benda di rumah digadaikan untuk membiayai keberangkatannya. Beberapa temannya sudah berhasil bekerja di Jepang cuma dia selalu gagal dan gagal berangkat. Suatu kali, seorang Pendeta datang dan bertanya: Jika kamu bersedia pimpinlah sebuah jemaat di desa, berdoalah minta Tuhan menunjukkan. Saat itu anak saya sedang bimbang dengan keinginannya ke Jepang. Namun, lewat 3 hari Yehuda mendatangi saya dan mengatakan menerima tawaran Bapak Pendeta itu. Seminggu kemudian ada kabar Tsunami meluluhlantakkan Jepang. Bagaimana hati saya tidak ikut luluh lantak juga," kata Ibu tua itu. Jdar. Saya jadi ingat ada banyak keinginan dan pencapaian yang harus saya kejar.
"Jangan melarikan diri dari konflik ya, itu akan membentukmu. Tuhan bisa memakai pengalaman-pengalaman yang tidak kamu mengerti untuk memperkuatmu," Ibu tua ini memandangku lagi. Jdar.
Ibu cenayang ya?
---
sebelum istirahat malam: apa yang aku kerjakan tidak ada apa-apanya.
Ibu ini adalah orang yang ramah. Perempuan Medan yang merantau ke Jakarta dan berkuliah disana. Bertemu dengan kekasihnya dan menikah. Panggilan mereka adalah kembali ke sebuah desa tempat suaminya dibesarkan. Namun setiba di desa itu, mereka tidak mampu menghidupi kebutuhan dan sulit secara ekonomi. Mereka memutuskan keluar desa dan bekerja di pabrik. Mahasiswa sekolah teologi menjadi buruh pabrik (?) Tapi, entah bagaimana Tuhan memanggil mereka berdua kembali ke desa itu. Memulai dari awal, sebagai penjual sayur keliling, membuat susu kedelai, tukang foto hajatan, penjahit, hingga membuka sekolah PAUD. Untuk apa? mereka melayani anak-anak desa dengan pendidikan dan keceriaan meski dengan biaya spp yang sangat sangat murah.
saya tanya "kok bisa?" Ibu itu menjawab "karena panggilan, dek.."
---
Jabatan perkenalan dan perpisahan.
Pak Henjk, yang dari hari pertama sampai terakhir betul-betul mempesona dengan cara mengajar dan menceritakan Firman, membukakan tentang keunikan setiap pribadi yang dipanggil Tuhan, kesulitannya mengeja kata berbahasa Indonesia adalah umpan candaan kami, bahasa tubuhnya menunjukkan perhatian yang besar agar kami bisa mengerti materi yang disampaikan, perkataannya memperlihatkan kerendahan hati seorang yang menjawab panggilan Tuhan.
"Pak Henjk, apakah langkah perkembangan yang saya buat sudah konkrit?", kataku malu-malu.
"Hmm kalau boleh saya tambahkan, kamu memerlukan orang yang dapat mendukungmu dan mengatakan kata-kata positif setelah kamu mengerjakan proyek ini.. banyak terimakasih kamu sudah berani mengatakannya.." Pak Henjk tersenyum jenaka.
"terimakasih Pak, sampai bertemu kembali di Malang.."
Beliau tidak mengatakan "sampai bertemu lagi, Visi" tapi
"Renungan yang saya bawakan tadi secara khusus berbicara kepadamu. Jangan merasa rendah diri dengan apa yang sedang kamu kerjakan ya.."
Saya mengulum senyum.

Renungan itu adalah
1 Timotius 4:12
"Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda..."

saya tahu kenapa bagian ini berbicara khusus untuk saya, karena:
dalam seminar ini tidak ada seorangpun yang muda, kecuali saya.


Jebakan Tuhan

aku masih tidak habis pikir dengan semua yang aku alami. aku merasa dijebak Tuhan.
aku terjebak dalam ketidakmengertianku mengenali sifat Tuhan.
aku terjebak dalam pengakuan bahwa "aku butuh Tuhan".
aku terjebak dalam rutinitas yang melegakan dan kadang begitu kering.
aku terjebak dalam anugerah pengampunan yang panjang, lebar, luas, dan dalam.
aku terjebak untuk mengasihi orang lain dengan caraku.
aku terjebak memikirkan Tuhan.

aku hendak melarikan diri
lari sejauh jauhnya dari jebakan anugerah
lari sejauh jauhnya dari jebakan yang mendorongku semakin menjauh dari keinginan dan hasrat
menutup mata
menutup telinga
tapi
ia terus mengusik dalam tidur malamku
menangis denganku
mengetuk dengan lembut
kadang menampar pipiku
menyeret kakiku

 Tuhan, aku harus jujur
aku tidak bisa tanpa Tuhan.
setiap orang akan meninggalkan aku sendirian.
ilmuku akan ditelan rayap.
jerawatku akan bertambah banyak dan aku capek harus mengolesi obatnya.
sikap "baik-ku" akan terbongkar dan banyak yang melihat "un-well-behave"ku
tapi aku bersyukur
selalu ada jalan ke arah pelukanmu
selalu ada mata yang terlebih dulu memperhatikan
jika perasaanku tumpul, yang aku andalkan hanya

kebenaran FirmanMu dan JanjiMu.

dari aku, yang tidak pernah bisa berkomitmen 100% mengasihiMu.

Tuesday, 2 June 2015

Noted

Tuhan menciptakan kita dengan kerapuhan agar kita sadar hanya dia satu-satunya yang mampu menguatkan kita.

Tuhan menciptakan kita untuk berduka dan kehilangan agar kita mengerti bahwa Dia satu satuNya yang mampu mengisi kekosongan hati.

Tuhan memberi kita kelemahan, ketidakberdayaan agar kita tahu bahkan didalam kelemahan kuasa Tuhan nyata.

Tuhan mengetahui kita berdosa dan minta ampun kemudian berdosa lagi, untuk kita bisa belajar arti sesungguhnya pengampunan dan pendamaian dosa.

Tuhan membuat kita jatuh cinta agar kita belajar menuangkan Kasih AnugrahNya yang melimpah pada mereka yang membutuhkan kasih.

Sunday, 17 May 2015

(belajar) Otentik

"Hal apa yang menghambatku bertumbuh? Ketiadaan hubungan pribadi yang otentik bersama TUHAN."

mengapa ke-otentik-an penting? karena dengan menjadi apa adanya dihadapan Tuhan, mengakui dosa dan keterbatasan, kita makin mengenal siapa diri kita dihadapan Tuhan. Inilah yang menolongku mengenal diri dengan tepat dan mengerti betapa luas, dalam, lebar, dan panjang belas kasih Tuhan.

aku terlalu sering menutupi perasaanku dengan alasan: aku baik-baik saja kok.
aku tertekan karena berusaha baik dan meniru kehidupan orang lain.
aku belum bisa berdamai dengan kekecewaan, kehilangan, berduka, penolakan.
aku tidak bisa menjadi diri apa adanya.

suatu kali dalam kesempatan mengikuti sebuah kamp "PIT STOP".
Kamp perhentian bagi semua aktivitas, merefleksikan siapa dan mengapa diri kita begini dan begitu, menikmati waktu berdiam diri dan pengasihan Tuhan, belajar lagi disiplin rohani dengan pandangan yang baru, membukakan karakter Tuhan yang Maha-Berbelas Kasih, menguatkan ketaatan sebagai murid.

aku berdamai dengan diriku, aku berharga dan menerima diriku sebagai biji mata-Nya.
aku perlahan dipulihkan dari rasa berduka.
aku merasakan konfirmasi Allah yang berbelas-kasih, melayani kebutuhanku.
aku haus dan lapar akan pengalaman-pengalaman otentik bersama Tuhan.
aku tidak ingin menjadi sulung yang melupakan adik-adiknya yang terhilang dan butuh kasih Kristus.
aku rindu Menyenangkan hati Tuhan.
sampai aku menyatakan "Kristus saja cukup bagiku."


Monday, 13 April 2015

Andre Novanda Prianputra

Dear Patner in Crime di Sorga,


Saya merindukanmu.
Saya ingin bercerita banyak hal tentang betapa ceria dan bahagianya anak-anak SMP 8 dan 16 saat Retreat kemarin. Kami menyanyi sama-sama lagu favoritmu
"Hidup tanpa Yesus seperti donat.. seperti donat.. ada bolong di tengah hatimu.."
Saya sudah tidur lebih baik sekarang, tidak ngempet nangis sendirian di kamar.
Saya juga senang sekali bersahabat dengan adek semata wayangmu yang manis, Tia.
Dan, kamu masih ingat Linda yang dulu kamu kenalkan karena dia butuh kelompok kecil. Sekarang kami bersama-sama.
Tapi saya belum ke Munjung lagi. Belum bertemu dengan anak-anak berpipi kemerahan yang pemalu itu atau bercerita dengan ibu-ibu muda disana. Saya juga tidak pernah melupakan kamu yang dengan entengnya bermain lompat tali bersama anak-anak kecil dengan tubuh kekarmu.
Saya tidak pernah melupakan tebenganmu karena seringnya saya pulang lewat jam 9 malam. Ibu tidak pernah kuatir karena kamu akan menemani dan mengantar saya pulang dengan selamat.
Saya masih ingat dengan candaanmu "Mbak, kalau tak gonceng nyanyi-nyanyi ya soalnya mbak kayak radio berjalan.."
Kamu yang sangat terbuka pada orang-orang tua dan bisa bertutur bahasa yang sopan.
Kamu yang makan dengan lahap apapun dan bagaimanapun rasa masakannya.
Kamu dengan hape lawas yang tidak bisa dibuat telpon tapi yang selalu siap sedia saat dihubungi.
Kamu yang selalu menyapa terlebih dahulu
Kamu yang juga peduli dengan hidup orang-orang diluar Kristus.
Saya merindukan passionmu untuk bisa mendorong saya tidak hidup meratap.
Saya akan selalu mengasihi Andre Novanda dengan belajar mendoakan mereka yang masih terus berjuang hidup tanpamu, mengasihi orang-orang yang bersentuhan denganmu, mengasihi orang-orang yang tidak dipedulikan, terus hidup dan memberi arti.

NB: Saya tidak menangis ketika menuliskan ini, Ndre..

Re

Saya hidup di Alice-in-Wonderland mind set yang dipenuhi dengan hari-hari bahagia dengan bunga bermekaran, hidup tanpa beban, bebas mengasihi dan dikasihi, pelukan hangat, kelembutan, dan tawa. Saya tidak pernah menyadari bahwa bunga-bunga itu akan layu dan mati, pelukan hangat tergantikan tikaman tajam, airmata kehilangan, tidak dikasihi balik, fisik yang lelah, kelelahan batin juga.

Demikianlah perasaan yang saya tahan selama berbulan-bulan. Mengerjakan banyak hal penting dan genting. Memperhatikan banyak orang dan mencurahkan emosi untuk menjawab apa yang dibutuhkan. Bertanya dan mendengarkan. Merasa berkobar-kobar kemudian perlahan mati sendiri gara-gara kepanasan. Membiarkan keraguan, kekecewaan, kepahitan menguar di udara. Sampai akhirnya saya berteriak dalam diam.

Saya butuh sesuatu yang lebih dari ini.

Saya butuh ditolong.

Saya ingin dipeluk.

Saya kesepian.

Saya membenci diri saya.

Saya sudah bosan menangis

Apa yang salah dengan saya? Saya lelah.

Ada relasi rusak yang saya acuhkan dan tanpa saya sadar ia tumbuh menjadi gunung es dalam hati.
Ada dosa-dosa yang tidak saya akui di hadapan Tuhan dan orang-orang terdekat.
Saya lelah karena berjuang mengasihi banyak orang yang pada akhirnya saya tidak sedang mengasihi siapapun.

Untuk dapat menulis, bernyanyi, tertawa lepas, mengamati lingkungan, memandang tanpa curiga saya sungguh-sungguh merindukan apa yang menjadi gairah hidup saya.

Melepaskan, memangkas, menolak, mengaku mungkin inilah yang dapat saya lakukan sekarang.
Melepaskan apa yang terlalu lama digenggam.
Memangkas relasi-relasi yang hanya sekadar ingin tahu.
Menolak melakukan kesibukan-kesibukan.
Mengakui bahwa saya butuh ditolong.



Wednesday, 11 February 2015

Bandara

 

di bandara
kamu bisa menemukan dua jenis orang.
Pertama, mereka yang kaya (sekali) sehingga bisa bepergian ke luar negeri dengan pesawat untuk berlibur, berbelanja, bersekolah, berobat dan kegiatan menghabiskan uang lainnya.
Kedua, orang yang tidak punya kesempatan selain pergi ke luar negeri untuk bekerja dan menghidupi kebutuhan keluarga. Mereka yang memutuskan jauh dari rumah, sanak saudara, budaya yang dianut.


 

Bandara juga sebuah tempat bagi perjumpaan dan perpisahan. Berjumpa dengan orang-orang baru, orang yang lama tak kita temui, orang yang kita rindukan. Berpisah, berpisah dengan orang yang kita kasihi atau berpisah dengan aturan, kebiasaan, adat, keadaan, bahkan perasaan.

Monday, 9 February 2015

Surat Cinta untuk Mbak Yoise


every promise we can make
every prayer and step of faith
every difference we can make
is only by His grace
every mountain we will climb
every ray of hope we shine
every blessing left behind
is only by His grace

grace alone
which God supplies
strengh unknown
he will provide
christ in us
our cornerstone
we will go forth in grace alone

every soul we long to reach
every heart we hope to teach
everywhere we share his peace
is only by His grace
every loving word we say
every tear we wipe awy
every sorrow turned to praise
is only by His grace

Lagu ini mengingatkan aku tiga tahun yang lalu.
Aku pernah berjanji di kota ini untuk mengenal Tuhan lebih dalam, mengasihi sesama khususnya siswa-siswa di kota Malang. Aku tidak benar-benar tahu apa artinya mengikuti Tuhan, memuridkan, menceritakan Kabar Baik. Yang aku tahu bahwa aku ingin kembali ke tempat dulu aku pernah ditolong, pernah diterima, pernah dikenalkan siapa Pribadi yang paling menerimaku dalam kelemahan-kelemahanku.

Tiga tahun itu mengubah hidupku secara pribadi. Aku yang egois belajar mengasihi. Aku yang tidak berkomitmen menjadi 80 persen komit kadang 30 persen komit melakukan sesuatu. Aku yang hanya sekadar tahu Tuhan itu ada dan sekarang begitu menikmati kasih Tuhan. Aku yang jarang berdoa menjadi senantiasa berpikir tentang Tuhan. Apakah aku rohani ?

sama sekali tidak.
aku masih tetap jatuh bangun atas kelemahanku, masih seringkali iri hati, masih punya motivasi yang jahat. Kerohanian yang kacau! Kadang bisa sangat dekat dan kadang bisa jauh dari Tuhan.

Thanks God Its Friday! Jumat membuat siklus-ku naik. Aku bertemu dengan siswa, tertawa dengan candaan khas siswa, membagikan perasaan yang aku alami, memberikan pelukan hangat dan dibalas dengan malu-malu, menuntut mereka untuk mendengarkan dan fokus, berbagai rahasia, menanyakan apa yang kamu alami bersama Tuhan dan sebagainya.. Aku bukan seorang guru, aku tidak bisa mengajar, aku hanya menikmati setiap proses mengenal mereka. Aku berusaha mengingat bagian-bagian kecil dari setiap pribadi yang kutemui.

Tuhan memberikan anugerah dalam hidupku.
sebentar lagi mungkin akan tiba aku mengakhiri "kontrak-ku", mengakhiri "Hari-hari Jumat", mengakhiri hal-hal rutin yang dikerjakan bersama rekan-rekan MD tetapi
aku akan memulai komitmen sebesar x persen kepada Tuhan
dengan belajar menjadi murid dimanapun aku berada.
memuridkan dalam Anugerah Tuhan.


Happy Birthday Mbak Yoise,
kita tidak pernah menyadari seberapa besar pengaruh seseorang untuk hidupmu sampai ia pergi dari-mu. Terimakasih sudah mengajarkan kasih, terimakasih, terimakasih, selamat berbahagia, selamat bertambah umur, jangan lupa buang sampah pada tempatnya.

Monday, 19 January 2015

Jatuh Cinta

Suatu hari kami bertiga membahas masalah serius anak muda jaman sekarang. Cinta.

Si Absurd dengan logika yang melampaui ruang waktu berkata, "Jatuh cinta itu berbahaya dia hanya akan mengganggu sistem kerja otakmu dan mengisi pikiran-pikiranmu dengan hal bodoh seperti kerinduan untuk bertemu."

Si Koleris Melankolis berkata, "cinta memang demikian tapi ada sisi-sisi cinta tidak bisa dihindari. Tergantung bagaimana kamu mengontrolnya."

dan yang sedari tadi diam berkata, "Cinta itu anugrah Tuhan. Tuhan yang Maha Kasih, yang Kasih-Nya meluber mengisi hati kita sehingga hal yang bisa kita lakukan adalah membagi kasih itu, Kasih yang dari pada Tuhan sendiri."

Kami pulang dengan makna cinta yang baru.

Look at the birds.


"Cermatilah gambar ini baik-baik", katanya. Tidak ada yang berbeda pikirku. "Lihatlah, burung ini bertengger pada kawat listrik yang memgalirkan tegangan. Jika ia meletakkan kaki yang satu kemudian kaki yang lain maka ia akan mati tersengat namun jika ia meletakkan kedua kakinya maka kemungkinan itu lebih sedikit terjadi." Tidakkah apa yang terjadi kebetulan sebenarnya bukan sesuatu yang "kebetulan"?

Selamat Tinggal Masa Remajaku


"Selamat tahun baru.."

Itulah kata pembuka yang diungkapnya padaku sebagai salam terakhir pertemuan kami. Firasatku mengatakan kami tak akan pernah bertatap muka dan mengurai pikiran berjam-jam seperti yang biasa kami lakukan di taman itu. 
Kami baik-baik saja tentunya. tapi hatiku tidak demikian.
Kadang selama habis dua jam, kami mengisi dengan permainan "jawablah cepat!" seperti "pilih gunung atau laut?" "pilih si A atau si B" dan dia memang hanya menjawab singkat tanpa perlu alasan panjang lebar.
Kadang kami hanya berdiam diri. Memikirkan banyak hal atau aku biasanya tidak berpikir dan melamun.
Kadang kami tertawa lepas dan kadang aku melihat matanya penuh dengan desakan.

(intermezo)
"Struktur perekonomian Jawa Timur dengan tabel I-O, statis atau dinamis, Visi?", dosen itu menjebakku. "Hmm.. statis Pak.. Eh dinamis mungkin Pak.." jawabku sekenanya. "Tabel I-O itu statis." "Kenapa Pak?". "Minggu depan belajar lagi, kamu kurang paham dengan bahanmu sendiri.." 

Statis diukur dengan tabel IO sedangkan dinamis diukur dengan metode regresi. Pendekatannya akan berbeda, demikian pula analisisnya. Kamu statis dan aku dinamis. 

Aku hanya bisa menjawab, "Selamat tinggal masa remajaku.."

Tuesday, 22 July 2014

EARC Part 1



Isaiah and Our Awesome GOD:

“tetapi Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi”. Yesaya 49:6B

Saya ragu. Pertama, bagaimana caranya saya dapat mengabarkan keselamatan sampai ke ujung bumi jika krisis, ketimpangan, ketidakadilan, korupsi, penganiayaan merajalela? Kedua, bagaimana campur tangan Allah dalam pemulihan kondisi ini?
PA Yesaya menolong saya untuk melihat karakter Allah yang tidak dapat dibatasi oleh kotak pemikiran manusia. Tuhan memanggil Yesaya untuk menyatakan penghakiman bila umat tidak taat sekaligus menyatakan harapan dan undangan keselamatan untuk kembali pada Tuhan. Tuhan kita luar biasa karena sepanjang sejarah manusia, Dialah Allah yang merekonsiliasi hidup umatNya.
Yesaya menunjukkan keteladanan generasi EPIC (Engaging-Passionate-Incarnational-Christlike).  Yesaya mengalami perjumpaan dengan Allah dan merasakan relasi yang unik bersama Tuhan. Yesaya mencari hasrat hati Allah dan menjadi penyampai pesan Allah bagi umat. Dia berani menyampaikan pesan yang tidak menyenangkan, menentang bobroknya sistem yang berlangsung saat itu, dan bergantung pada Tuhan saat masa-masa sulit. God, count me in..

Small Group dan Yo Nikata:
Setiap bangun pagi, saya selalu bertekad untuk sharing dengan mahasiswa Kristen dari negara lain meskipun dengan bahasa inggris yang pas-pasan. Saya berteman dengan seorang mahasiswa KGK Japan (IFES Jepang) bernama Yo Nikata. Pelayanan kampus di Jepang adalah pelayanan yang cukup berat karena sebagian besar mahasiswa tidak beragama. Sulit untuk melibatkan mahasiswa dalam kegerakan pelayanan kampus sehingga tak jarang hanya satu orang yang berjuang dalam sebuah kampus. Beberapa isu lainnya seperti  perubahan konstituen yang berdampak pada kebijakan untuk menyetujui perang di Jepang, pemulihan pasca Tsunami yang terus berjalan, serta hubungan yang kurang baik dengan beberapa negara tetangga.

Dalam SG, saya seperti berada di jurang yang menganga. Meskipun negara-negara ini bertentangga namun terlihat jelas lebarnya ketimpangan. Disatukan dengan mahasiswa Malaysia, Singapura, Hongkong, dan Jepang membuat saya makin merasakan betapa pentingnya pendidikan dan kualitas manusia tanpa meninggalkan budaya yang mengakar.  Isu-isu permasalahan di Asia Timur adalah isu yang sensitif, seperti isu klaim budaya ataupun perebutan pulau. Inilah mengapa generasi ini dibukakan untuk berdiri di tengah jurang, untuk merekonsiliasi kondisi ini dengan berjuang untuk mengampuni dan mengasihi. 
Dibalik itu semua, saya bersyukur bisa sharing dengan mahasiswa-mahasiswa yang berjuang dalam study dan dalam pergumulannya, terutama memuliakan Tuhan dalam seluruh aspek hidupnya.




Delegasi Indonesia.
Dari Sabang sampai Merauke.

Monday, 9 June 2014

Takut akan Tuhan Nomor 1, Pilih Presiden Nomor ......


ini mungkin ya yang disebut white-campaign! Selamat berdemokrasi Indonesia..

Memberi Ruang bagi Ekonomi dan Politik

sekali lagi, esay tentang ekonomi politik

            Rakyat sedang menikmati dan  “melek” dengan demokrasi yang saat ini berlangsung di Indonesia. Apabila di beberapa tahun yang lampau, pemilih muda tidak terlalu antusias dengan siapa yang akan duduk di kursi pemerintahan , maka tahun 2014 menjadi tahun dimana semangat perubahan dan optimisme ada di tiap perbincangan dan diskusi anak-anak muda. Siapa yang tak kenal Jokowi? JK? Prabowo? Bahkan Hatta Rajasa dengan kasus yang menimpa anaknya?
            Senin (9/6) ini, untuk pertama kalinya dalam sejarah demokrasi Indonesia, KPU menggelar debat pasangan capres-cawapres dengan tema tentang pembangunan demokrasi, pemerintahan bersih, dan kepastian hukum. Di dalam debat tersebut, para calon presiden memaparkan visi dan misi yang disusun berdasarkan fundamen periode-periode rencana pembangunan jangka menengah sebelumnya. Hal ini penting untuk melihat seberapa jauh program-program yang ditawarkan itu benar-benar menjadi solusi menghadapi persoalan ke depan.
            Salah satu pembahasan yang menarik adalah tentang kondisi saat ini dimana hukum masih karut-marut dan belum bisa bersinergi dengan keadilan. Akibatnya, penegakan hukum yang dilakukan hanya akan menegakkan ketidakadilan. Kondisi itu diperburuk dengan mentalitas aparat penegakan hukum yang dinilai cenderung kurang bagus.
            Saya turut mengamati sebagian besar jalannya debat capres-cawapres antara Jokowi-JK dengan Prabowo-Hatta Rajasa. Sangat menarik dan cukup mendalam apa yang disampaikan kedua belah pihak. Sebagai pemilih muda, saya sangat tergugah dengan alur berpikir Jokowi. Dengan tegas,  beliau  mengatakan bahwa Bhineka Tunggal Ika sudah harga mati dan harus ditaati. Dengan prinsipnya, beliau  lugas menjelaskan bahwa setiap rencana-rencana yang disusun itu penting, tapi yang lebih terpenting adalah melaksanakannya. Beliau menambahkan bahwa Indonesia perlu memperkuat manajemen kontrol dan pengawasan.
            Bukan berati saya mengagung-agungkan sosok Jokowi, namun saya tersadar bahwa apa yang diungkapkan dan digagas Jokowi adalah sesuatu hal yang mungkin terjadi untuk membawa perubahan bangsa selama rakyat optimis untuk mengerjakan perubahan ini bersama dengan pemimpinnya.
            Dalam pertemuan-pertemuan mata kuliah ekonomi politik, saya mempelajari bahwa dalam teori pilihan publik, setiap aktor politik di sisi penawaran barang publik memiliki kepentingan atau motivasi-motivasi (untuk ketenaran, peningkatan kekayaan, prestige) untuk memaksimalkan utilitas. Masyarakat, di sisi permintaan barang publik mengharapkan kesejahteraan dan terpenuhinya kebutuhan akan barang publik. Dalam sistem demokrasi, proses voting (pemungutan suara) menjembatani sisi penawaran dan permintaan. Artinya bahwa pemilihan umum menjadi sarana penyediaan barang publik yang diminta oleh masyarakat. Namun kenyataannya, terkadang proses voting tidak bisa menjembatani sisi permintaan dan penawaran karena para birokrat memiliki kepentingan yang tidak sejalan dengan keinginan masyarakat. Oleh karena itu, dalam menghadapi pemilu 9 Juli nantinya, mari kita memberi ruang bagi ekonomi dan politik untuk bersatu, menyatukan tujuan untuk kesejahteraan orang banyak.

Referensi:

 “Kaji Dasar Visi dan Misi Capres”. Artikel, dimuat Kompas, 9 Juni 2014.





Menata Kota, Menata Visi Pemimpinnya

tulisan ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah ekonomi politik :) 

            Adanya Jokowi effect dalam beberapa tahun terakhir ini membuat optimisme sebuah perubahan perkotaan yang lebih “memanusiakan” masyarakatnya. Pemberitaan koran marak menyoroti bagaimana Jokowi dan Ahok menjabarkan visi pelayanan masyarakat dalam program-program/ kebijakan publik yang berusaha mengatasi apa yang benar-benar menjadi permasalahan pokok masyarakat perkotaan. Satu persatu persoalan perkotaan (banjir, pendidikan, pemberdayaan masyarakat, kesehatan, terbatasnya ruang publik) dicermati dan dicari jalan keluarnya. Virus perubahan kota mulai menyebar dimulai dengan membentuk pemimpinnya.
            Selama sepekan ini, Singapura mengadakan Young Leaders Forum dalam World Cities Summit 2014 yang merupakan sebuah ajang menggaet pemimpin muda dunia untuk bertukar ide tentang cara menata kota agar menjadi nyaman dan aman bagi penghuninya. Duta yang terpilih adalah mereka yang berkiprah di berbagai bidang seperti industri, arsitek, penata kota, desainer, ekonom, peneliti dan juga para wali kota. Mereka telah terbukti dengan caranya sendiri telah membantu membawa perubahan positif pada kota/negara tempat tinggal mereka dan tepat jika turut ditularkan kepada dunia.
            Pemimpin muda ini dapat menangkap dengan tepat potensi/ kemampuan daerah masing-masing dengan beradaptasi di era pesatnya perkembangan kota-kota di dunia dan menggabungkan antara kemajuan teknologi dan potensi lokal. Ketika ada kolaborasi antara warga, pemerintah, dan bantuan dari dunia luar ini merupakan kunci penting keberhasilan membangun kota.
            Apabila dilihat APBD memang tidak mencukupi untuk adanya pembenahan kota yang baik. Dicontohkan APBD kota Bandung hanya tersedia Rp 12 triliun, sedangkan kebutuhan pembenahan kota adalah sebesar Rp 20 triliun. Butuh banyak cara mengatasi keterbatasan  itu. Salah satunya dengan memanfaatkan tanggung jawab sosial perusahaan swasta, bantuan dari luar negeri, dan investor.
            Berkaca pada dua pemimpin daerah, Jokowi dan Ibu Risma, mereka adalah pemimpin-pemimpin yang peka terhadap persoalan masyarakatnya, memiliki ketegasan untuk memutuskan kebijakan-kebijakan yang tepat bagi persoalan tersebut, berintegritas yang ditandai dengan sikap jujur dalam berpolitik (tujuan: untuk mensejahterakan masyarakat).
            Ke depannya, kampus adalah tempat dimana lahir pemimpin-pemimpin yang akan menduduki berbagai bidang dan kompetensi. Apabila calon pemimpin-pemimpin muda ini tidak dipersiapkan dan diarahkan pada suatu visi yang jelas maka generasi ini hanyalah generasi yang sekadar lewat dan tidak dapat menorehkan sejarah pembangunan bangsa. Kampus adalah lembaga yang strategis, tempat dimana penanaman visi pembangunan negeri ditanamkan.
            Kesejahteraan kota dapat terjadi ketika ada orang-orang yang mau memikirkan persoalan kota, mau ambil bagian untuk menjadi pemimpin yang memecahkan masalah, mau untuk terus berintegritas dalam berpikir dan berbuat, dan memiliki visi untuk suatu perubahan yang lebih baik.

Referensi:
 “Pengelola Kota Unjuk Gigi”. Artikel, dimuat Kompas, 2 Juni 2014.




Tuesday, 13 May 2014

Kertas Itu (tanda petik)

"tidak pernah ada yang salah tentang perasaan, tapi ketika perasaan itu menjadi segala-galanya maka hancurlah sebuah hubungan."

pernahkah kamu menuliskan sebuah proposal, surat permohonan, atau kartu pos pada Tuhan? aku pernah ketika duduk di kelas 1 SMA. Kertas itu ku simpan rapat-rapat agar jangan dibuka orang lain, karena ini rahasiaku dengan Tuhan. Sampai suatu kali, aku menemukan kertas itu terselip dalam buku harian masa SMA-ku. Aku diam.
Ada banyak hal yang sudah Tuhan nyatakan dalam proses hidupku, sampai aku kuliah. Rasanya membaca kembali cerita masa SMA benar-benar menyegarkan jiwa anak kuliah semester 6. Aku menulis tentang perasaan suka-suka-an tapi tidak benar-benar suka, menempel kertas contekan isinya "vis, jawabanmu endi!", mengawetkan sebungkus permen dari seseorang dengan sebaris kata "ini aku kasi permen biar senyum terus", berkaca-kaca saat membaca tulisan betapa tidak percaya diri gadis ini masa SMA.

dan terbacalah kertas itu.
Isinya foto 4x6 dengan tulisan PERMOHONAN
Apa itu? Aku kan sudah bilang ini rhs.
pada intinya, aku bertemu dengan "kertas itu" secara manusia dan manusiawi
aku tidak pernah sadar, sampai akhirnya disadarkan
aku tidak pernah dekat, sampai akhirnya didekatkan

aku pernah berusaha mencari, menyortir dan nihil
"kertas itu" datang seperti ditiup angin
"kertas itu" bahkan yang berusaha aku hindari kehadirannya, karena terlalu berbeda
bertolak belakang seperti kutub utara-selatan
tapi mengapa, "kertas itu" adalah kertas ku di masa lalu?

satu hal berharga yang sedang aku nikmati saat ini
adalah bahwa Tuhan menjawab PROPOSAL-ku dengan cara ajaib.
Tuhan seperti berbicara
        "tenang vis.. ada kok orang seperti dalam kertas itu"
         "kamu tidak perlu kuatir, Aku mendengarmu"
         "kamu hanya perlu sabar dan menantikan"


Wednesday, 19 March 2014

Sepucuk Email dari Jauh

Dear VISI SAUJANINGATI KRISTYANTO ,

As you celebrate your birthday this month, may God’s grace and peace be unto you always. It is our prayer that you will continue to grow in widsom and in the knowledge of our Lord and Saviour Jesus Christ.

We have selected a reading from Our Daily Bread which we pray will encourage you to draw near to God and saturate yourself with His Word everyday even as He adds days and years to your life.

Christopher Tan
Senior Vice President
Asia Pacific Group

Seeing God’s Hand
Read: Ezra 7:1-10,27-28

On Jack Borden’s 101st birthday, he awoke at 5 a.m., ate a hearty breakfast, and was at his law office by 6:30 ready to begin his day. When asked the secret of his long life, the practicing attorney smiled and quipped, “Not dying.”

But there’s more to it than that. Mr. Borden, who was baptized at age 11 in the Clear Fork of the Trinity River, told Fort Worth (Texas) Star-Telegram reporter David Casstevens, “I’m a firm believer that God has His hand in everything that happens. He is letting me live for some reason. I try to do the things that I believe He wants me to.”

Ezra the priest experienced the “good hand of his God upon him” when he led a delegation to Jerusalem to provide spiritual leadership for the former captives who were rebuilding the temple and the city (Ezra 7:9-10). Ezra found strength and courage in knowing that the Lord was with them each step of the way. “So I was encouraged, as the hand of the Lord my God was upon me; and I gathered leading men of Israel to go up with me” (v.28).

When we see the Lord's hand in our lives, it brings forth a deep "Thank you" and a growing desire to do what He wants us to do. — by David C. McCasland
 

If we would view through eyes of faith
The course of each new day,
We’d quickly see God’s gracious hand
In all that comes our way. —D. De Haan

If you know that God’s hand is in everything, you can leave everything in God’s hands

Sunday, 26 January 2014

Re-Soluti-On-2014


seringnya menjadikan doa sebagai kebiasaan di awal makan, tidur, berangkat ke kampus membuat aku tidak benar-benar SADAR bahwa doa itu berarti komunikasi dua arah. tahun ini mau belajar berdoa dengan rendah hati dan menyerahkan kuatirku di tanganNya.


menjadi orang yang lebih berpengharapan. 
kadang sulit percaya bisakah Tuhan mengubah kebiasaan buruk-ku?
lebih bijak dalam berbicara karena aku tahu mulutku sering menjadi batu sandungan buat orang lain.



salah satu harapku, mungkin ini.
bertemu dengan seseorang yang Tuhan sediakan
yang menopang bukan menjatuhkan
yang mendekatkan bukan malah menjauhkan diri pada relasi bersama TUHAN.